ETIKA UTILITARIANISME DALAM BISNIS
tugas
kelompok 4 Kls 4ea15
1. Yus irwan
2. Erman
Susanto
3. Wisnu KW
4. Onne
Disti
5.
Gustafrikan
Utilitarianisme adalah paham dalam
filsafat moral yang menekankan manfaat atau kegunaan dalam menilai suatu
tindakan sebagai prinsip moral yang paling dasar, untuk menentukan bahwa suatu
perilaku baik jika bisa memberikan manfaat kepada sebagian besar konsumen
atau masyarakat. dalam konsep ini dikenal juga “Deontologi” yang berasal dari
kata Yunani “deon” yang berarti kewajiban. Deontologi adalah teori etika
yang menyatakan bahwa yang menjadi dasar baik buruknya suatu perbuatan adalah
kewajiban seseorang untuk berbuat baik kepada sesama manusia, sebagaimana
keinginan diri sendiri selalu berlaku baik pada diri sendiri.
Utilitarianisme pertama kali dikembangkan oleh Jeremy bentham ( 1748 – 1842
)
Persoalan yang dihadapi bentham dan orang orang sezamannya adalah bagaimana
menilai baik buruknya suatu kebijaksanaan social politik, ekonomi dan legal
secara moral. Singkatnya bagaimana menilai sebuah kebijaksanaan public, yaitu
kebijaksanaan yang mempunyai dampak bagi kepentingan banyak orang secara moral.
Apa criteria dan dasar objektif yang dapat dijadikan pegangan untuk menilai
baik buruknya suatu kebijaksanaan public.
Secara lebih konkret, dalam
kerangka etika utilitarianisme kita dapat merumuskan tiga criteria objektif
yang dapat dasar objektif sekaligus norma untuk menilai suatu kebijaksanaan dan
tindakan. Criteria pertama adalah manfaat, yaitu bahwa kebijaksanaan atau tindakan
itu mendatangkan manfaat atau kegunaan tertentu. Jadi kebiasaan atau tindakan
yang baik adalah yang menghasilkan hal baik. Sebaliknya kebijaksanaan atau
tindakan yang tidak baik adalah yang mendatangkan kerugian tertentu.
Criteria kedua adalah manfaat
terbesar yaitu bahwa kebijaksanaan atau tindakan itu mendatangkan manfaat
terbesar dibandingkan dengan tindakan yang lainnya.
Criteria ketiga menyangkut
pertanyaan mengenai manfaat terbesar untuk siapa. Untuk saya atau kelompokku,
atau juga untuk semua orang yang terkait, terpengaruh dan terkena kebijaksanaan
atau tindakan yang akan saya ambil. Dengan demikian, criteria yang sekaligus
menjadi pegangan objektif etika utilitarianisme adalah : manfaat terbesar bagi
sebanyak orang mungkin.
Menurut
paham Utilitarianisme bisnis adalah etis, apabila kegiatan yang dilakukannya
dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya pada konsumen dan masyarakat.
jadi kebijaksanaan atau tindakan bisnis yang baik adalah kebijakan yang
menghasilkan berbagai hal yang baik, bukan sebaliknya malah memberikan kerugian.
Nilai
positif Utilitarianisme terletak pada sisi rasionalnya dan
universalnya. Rasionalnya adalah kepentingan orang banyak lebih berharga
daripada kepentingan individual. secara universal semua pebisnis dunia saat ini
berlomba-lomba mensejahterakan masyarakat dunia, selain membuat diri mereka
menjadi sejahtera. berbisnis untuk kepentingan individu dan di saat yang
bersamaan mensejahterakan masyarakat luas adalah pekerjaan profesional sangat
mulia. dalam teori sumber daya alam dikenal istilah Backwash Effect, yaitu di
mana pemanfaatan sumber daya alam yang terus menerus akan semakin merusaka
kualitas sumber daya alam itu sendiri, sehingga diperlukan adanya upaya
pelastarian alam supaya sumber daya alam yang terkuras tidak habis ditelan
jaman.
Di
dalam analisa pengeluaran dan keuntungan perusahaan memusatkan bisnisnya untuk
memperoleh keuntungan daripada kerugian. proses bisnis diupayakan untuk selalu
memperoleh profit daripada kerugian. Keuntungan dan kerugian tidak hanya
mengenai finansial, tapi juga aspek-aspek moral seperti halnya mempertimbangkan
hak dan kepentingan konsumen dalam bisnis. dalam dunia bisnis dikenal corporate
social responsibility, atau tanggung jawab sosial perusahaan. suatu pemikiran
ini sejalan dengan konsep Utilitarianisme, karena setiap perusahaan mempunyai
tanggaung jawab dalam mengembangkan dan menaikan taraf hidup masyarakat secara
umum, karena bagaimanapun juga setiap perusahaan yang berjalan pasti
menggunakan banyak sumber daya manusia dan alam, dan menghabiskan daya guna sumber
daya tersebut.
Kesulitan
dalam penerapan Utilitarianisme yang mengutamakan kepentingan masyarakat luas
merupakan sebuah konsep bernilai tinggi, sehingga dalam praktek bisnis
sesungguhnya dapat menimbulkan kesulitan bagi pelaku bisnis. misalnya dalam segi
finansial perusahaan dalam menerapkan konsep Utilitarianisme tidak terlalu
banyak mendapat segi manfaat dalam segi keuangan, manfaat paling besar adalah
di dalam kelancaran menjalankan bisnis, karena sudah mendapat ‘izin’ dari
masyrakat sekitar, dan mendapat citra positif di masyarakat umum. namun dari
segi finansial, Utilitarianisme membantu (bukan menambah) peningkatan pendapat
perusahaan.
Nilai positif etika utilitarianisme
• Pertama, Rasionalitas :
Utilitarianisme tidak menerima saja norma moral yang ada. Ia mempertanyakan
dan ini mengandaikan peran rasio. Utilitarianisme ini bersifat rasional karena
ia mempertanyakan suatu tindkan apakah berguna atau tidak. Dalam kasus seks pra
nikah tadi, utilitarianisme mempertanyakan sebab-sebab seks pra nikah dilarang.
•Kedua, utilitarianisme sangat menghargai kebebasan setiap pelaku moral
• Ketiga, Universalitas :
semboyan yang terkenal dari utilitarianisme adalah sesuatu itu dianggap
baik kalau dia memberi kegunaan yang besar bagi banyak orang. Hal ini sering
dipakai dalam politik dan negara.
Sampai sekarang nilai etika utilitarianisme mempunyai daya tarik sendiri,
yang bahkan melebihi daya tarik deontologist. Yang paling mencolok etika
utilitarianisme tidak memaksakan sesuatu yang asing pada kita. Etika ini justru
mensistemasikan dan memformulasikan secara jelas apa yang menurut para
penganutnya dilakukan oleh kita dalam kehidupan sehari hari. Bahwa sesungguhnya
dalam kehidupan kita, dimana kita selalu dihadapkan pada berbagai alternative
dan dilemma moral, kita hamper selalu menggunakan pertimbangan – pertimbangan
tersebut di atas.
Utilitarianisme sebagai proses dan
sebagai standar penilaian
• Pertama, etika utilitarianisme digunakan sebagai proses untuk mengambil
keputusan, kebijaksanaan atau untuk bertindak
• Kedua, etika utilitarianisme sebagai standar penilaian bagi tindakan atau
kebijaksanaan yang telah dilakukan.
Analisis keuntungan dan kerugian
• Dalam etika utilitarianisme, manfaat dan kerugian selalu dikaitkan dengan
semua orang yang terkait, sehingga analisis keuntungan dan kerugian tidak lagi
semata mata tertuju langsung pada keuntungan perusahaan.
Analisis keuntungan dan kerugian dalam kerangka etika bisnis
• Pertama, keuntungan dan kerugian, cost dan benefit yang dianalisis tidak
dipusatkan pada keuntungan dan kerugian perusahaan
• Kedua, analisis keuntungan dan kerugian tidak ditempatkan dalam kerangka
uang.
• Ketiga, analisis keuntungan dan kerugian untuk jangka panjang.
Langkah konkret yang perlu diambil dalam membuat kebijaksanaan bisnis,
berkaitan dengan analisis keuntungan dan kerugian.
• Mengumpulkan dan mempertimbangkan alternative kebijaksanaan dan kegiatan
bisnis sebanyak banyaknya.
• Seluruh alternative pilihan dalam analisis keuntungan dan kerugian, dinilai
berdasarkan keuntungan yang menyangkut aspek aspek moral.
• Analisis neraca keuntungan dan kerugian perlu dipertimbangkan dalam kerangka
jangka panjang.
Dua macam teori utilitarianisme
1. Utilitarianisme Tindakan.
Suatu tindakan itu dianggap baik kalau tindakan itu membawa akibat yang
menguntungkan.
2. Utilitarianisme Peraturan.
Teori ini merupakan perbaikan dari utilitarianisme tindakan. Sesuatu itu
dipandang baik kalau ia berguna dan tidak melanggar peraturan yang ada.
Kelemahan Etika Utilitarisme
• Pertama, manfaat merupakan konsep yg begitu luas shg dalam kenyataan praktis
akan menimbulkan kesulitan yg tidak sedikit.
• Kedua, etika utilitarisme tidak pernah menganggap serius nilai suatu tindakan
pd dirinya sendiri dan hanya memperhatikan nilai suatu tindakan sejauh
berkaitan dg akibatnya.
• Ketiga, etika utilitarisme tidak pernah menganggap serius kemauan baik
seseorang
• Keempat, variabel yg dinilai tidak semuanya dpt dikualifikasi.
• Kelima, seandainya ketiga kriteria dari etika utilitarisme saling
bertentangan, maka akan ada kesulitan dlam menentukan proiritas di antara
ketiganya
• Keenam, etika utilitarisme membenarkan hak kelompok minoritas tertentu
dikorbankan demi kepentingan mayoritas
Tanggapan Kritis
1. Kesulitan Menentukan Nilai Suatu Akibat.
Mengikuti etika normatif utilitarianisme kita tentu tidak mudah menetukan mana
akibat lebih baik (lebih berguna) dari beberapa tindakan. Dalam kehidupan kita
kita seringkali berhadapan dengan berbagai pilihan. Contoh, pergi ke sekolah,
mengunjungi anggota keluarga yang sakit, makan mie pangsit. Kita sulit
menetukan mana lebih baik pergi ke sekolah atau mengunjungi keluarga yang
sakit. Makan mie pangsit tentu membuat kita merasa kenyang apalagi bagi orang
yang suka mie pangsit, tindakan makan mie pangsit tentu sangat berguna karena
memberi kepuasan. Pergi ke sekolah akan membuat kita bisa pintar. Sekarang
bagaimana mentukan akibat yang lebih baik dari tindakan tersebut? Inilah kelemahan
pertama etika normatif utilitarianisme ini.
2. Bertentangan dengan Prinsip Keadilan
Kelemahan kedua dari teori utilitarianisme ini adalah teori ini bertentangan
dengan prinsip keadilan. Sebagai contoh, karena pembangunan jalan tol,
pemerintah dengan mudah mengusir keluarga Sukribo. Alasan yang diberikan adalah
membangun jalan tol lebih berguna daripada membiarkan rumah Pak Sukribo tidak
dibongkar. Alasan ini tampaknya masuk akal. Akan tetapi alasan ini bertentangan
dengan keadilan. Adalah tidak boleh mengorbankan manusia demi kepentingan
manusia lain. Dengan prinsip utilitarianisme pemerintah gampang saja mengadakan
penggusuran dengan alasan demi kepentingan umum. Di sini kemanusiaan orang yang
digusur dikorbankan. Hal inilah yang bertentangan dengan prinsip keadilan yakni
mengorbankan manusia.
Daftar referensi: